Sunarpos.com| Opini| Tradisi ngelawang dilakukan oleh umat Hindu khususntya di Bali dilakukan selama wuku uncal Balung. Kurang lebih selama 42 hari mulai dari hari suci sugian sampai pada buda keliwon Pahang yang disebut pegatwakan . selama 42 hari ini di harapkan kita melakukan taba brata yoga semadi, yaitu mengekang diri tidak sesumbar, iri hati dan dengki, tapi tulus untuk memuliakan tuhan sesama manusia dan alam semesta. Mengapa demikian karena saat wuku uncal balung kekuatan manusia dan alam semesta ada pada titik nol atau titik terendah, sedangkan pada wuku uncal balung di penuhi dengan mara bahaya dengan turunnya sang kala tiga yaitu kala galungan, kala dunggulan dan amangkurat. Ketiga kala ini menguji keimananan dan ketaqwaan manusia pada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberi berkat pada umat manusia
Sang Kala tiga juga akan menggoda kekuatan iman manusia, yang sedang merayakan hari Galungan sebagai kemenangan dharma. Sang Kala tiga akan mulai turun pada Radite Galungan, yang akan mengintai kekuatan iman manusia untuk tidak melakukan hal hal yang negative seperti iri hati, dengki, sombong, arogan dan lain sebagainya yang harus dikendalikan. Karena itu radite dunggulan disebut penyekeban atau anyekung jnana Sudha Nirmala, yaitu mengendalikan diri untuk mencapai kesucian
Agar manusia bisa sukses melaksanakan tapa brata yoga semadi, bhatara siwa memerintahkan seluruh dewata untuk turun ke dunia membantu manusia menyeimbangkan kekuatan alam semesta, dan untuk mengusir roh roh jahat, bhatara siwa mengutus banaspati raja dalam wujud barong, untuk menjaga umat manusia dan memastikan ada dalam keadaan selamat dan aman, dengan mendatangi manusia yang sedang melaksanakan tapa, brata Yoga semadi dari pintu ke pintu. Perjalanan Banas Pati Raja dalam wujud barong untuk mejaga umat manusia dari pintu ke pintu itu kemudian di sebut ngelawang. Kata Lawang artinya pintu, yaitu pintu masuk ke pekarangan , sehingga pada tradisi ngelawang barong, yang biasanya barong bangkal/bangkung akan menari di depan pintu pekarangan warga. Sebagai rasa sukur dan terima kasih atas berkah Tuhan, dan telah menjaga lahir dan batin maka mereka yang mempunyai pekarangan rumah akan menghaturkan sesajen dan sesari , sesajen sebagai ungkapan rasa aman dan tentram, sedangkan sesari sebagai ungkapan sukacita, Bahagia dan sejahtera
Makanya makna dari ngelawang adalah perwujudan cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa terhadap manusia agar manusia terhindar dari mara bahaya. Perwujudan perlindungan itu dilakukan oleh banas pati raja dalam bentuk barong, menjaga manusia dari pintu pekarangan rumahnya, supaya tidak ada kekuatan dan roh jahat yang bisa masuk. Sehingga manusia bisa hidup dengan aman dan sejahtera lahir dan batin ( mokshartam jagadita )*)
*) Penulis
I Made Sila adalah Wakil Rektor II Dwijendra University, Dosen Program Studi PPKn, FKIP, Dwijendra University.















