Sunarpos.com| Opini| Tanggal 14 Februari setiap tahunnya banyak orang yang merayakan sebagai hari kasih sayang ( hari valentin), ini bermula dari kisah pilu disekitar tahun 200 Masehi ketika Uskup Agung bernama Santo Valentinus tidak senang dengan kebijakan Kaisar Romawi, Claudisius II. Yang melarang para pemuda yang masuk tentara untuk menikah agar tidak terganggu konsentrasinya dalam peperangan. Namun Santo Valentinus secara diam diam memberikan kepada tentara muda untuk menumpahkan kasih sayang pada kekasihnya bahkan diperbolehkan menikah, atas tindakannya ini kemudian Santo valentinus di penjara dan dihukum mati tanggal 14 Februari, dikemudian hari untuk mengenang rasa kasih sayang Santo Valentinus , hari kematiannya di rayakan oleh banyak orang sebagai hari kasih sayang.
Bagi masyarakat Bali sesuai imbauan Bapak Gubernus Bali I Wayan Koster perayaan hari tresna asih ( hari kasih sayang ) dilaksanakan pada tumpek Krulut. Perayaan Tumpek Krulut ini merupakan pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru,”
Hal ini merupakan implementasi dari Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasar Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi . Menetapkan hari raya Tumpek Krulut sebagai Rahina Tresna Asih atau hari kasih sayang. Kemudian melalui Instruksi Nomor 08 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Krulut dengan upacara Jana Kerthi. Dalam arahannya, gubernur mendorong semua pihak bersinergi melaksanakan nilai-nilai adiluhung Jana Kerthi dengan tertib, disiplin, dan penuh rasa tanggung jawab
.Perayaan hari Valentin dan tumpek krulut tahun ini jatuh pada wuku krulut, yaitu mulai dari tanggal 12 sampai tanggal 18 Februari 2023, dimana taggal 18 Februari 2023 adalah hari raya tumpek Krulut, sehingga sepekan ini kita merayakan hari kasih sayang
Dalam mitologi Hindu menurut Penjelasan dari Parisadha Hindu Darma Bahwa Sang Hyang Kama Jaya dan Dewi Semara Ratih, merupakan sepasang dewa dewi sebagai simbol cinta kasih yang penuh dengan keinginan, sayang dan kesetiaan serta pengorbanan.
Lebih lanjut diceritakan dalam lontar cundamani II. bahwa sorga dalam keadaan bahaya karena diserang oleh raksasa Nilarudraka, seorang raksasa yang sakti ingin menguasai sorga. Para dewa-dewa semuanya kalah tidak ada yang sanggup melawannya. Dalam ramalan Bhagawan Wraspati bahwa raksasa Nilarudraka hanya akan dapat dikalahkan oleh putranya Dewa Siwa yang berkepala gajah. Ternyata pada saat itu Bhatara Siwa belum berputra di samping itu beliau sedang bersemadi (bertapa), yang tidak ada seorang pun yang berani untuk mengganggunya. Sehingga ditugaskanlah Dewa Kama untuk menggoda dan membangunkan Dewa Siwa, agar Dewa Siwa ingat pada Caktinya Dewi Uma, untuk menumpahkan kasih sayang agar memiliki putra, agar dapat mengalahkan raksasa itu.
Sesampainya di Gunung Kailasa Dewa Kama Jaya melaksanakan titah para dewa dengan penuh resiko, mulai menggoda dan memanah Dewa Siwa. Dewa Siwa terbangun dan marah lalu membakar dewa Kama jaya, melihat kenyataan ini Dewi Samara Ratih bersedih dan mita kepada Dewa Siwa untuk membakar dirinya sebagai bentuk Kasih sayang, pengorbanan dan kesetiaan, permitaan itu pun di kabulkan, sehingga Dewa Kama Jaya dan Dewi Samara Ratih pun gugur.
Namun atas permintaan Dewi Uma agar pasangan dewa dewi ini di hidupkan Kembali , karena panah Dewa Kama Jaya lah yang mengingatkan dan membangkitkan cintanya serta kasih sayangnya Dewa Siwa pada Dewi Uma. Dewa Siwa pun mengabulkan permintaan Dwi Uma, namun tidak bisa di hidupkan di sorga melainkan ditaburkan di maya pada dalam kehidupan manusia, sehingga manusia memiliki rasa kasih sayang, cinta kesetiaan dan pengorbanan, serta hidup saling mencintai. Dalam kehidupan masyarakat Hindu Dewa Kama Jaya dan Dewi Samara Ratih adalah simbul kesetiaan, cinta, kasih sayang dan pengorbanan,.
Cinta menang indah dan romantis penuh kasih dan sayang tapi membutuhkan kesetiaan, komitmen serta pengorbanan .
Bila kamu melihat hati kekasih mu, betapa luas dan tak terbatasnya cinta itu, selamat Hari valentin, selamat hari Tresna Asih. *)
*) Penulis
Drs. I Made Sila, M.Pd adalah dosen Prodi PPKn, FKIP Dwijendra University dan sekarang sedang menjabat WR II Dwijendra University















