Sunarpos.com| Denpasar|
Bayang-bayang krisis pangan yang dihadapi berbagai negara termasuk di Indonesia, harus segera dicarikan solusi alternatif karena urusan pangan adalah sangat erat kaitannya dengan pemenuhan hak asasi manusia yaitu kebutuhan utama manusia. Demikian diungkapkan oleh Gede Sedana selaku Rektor Dwijendra University dalam presentasinya pada acara Bimtek dan Sosialisasi Propaktani yang bertemakan Provinsi Bali Siap Jadi Lumbung Pangan Berbasis Tanaman Lokal yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian RI melalui Webinar, pada Selasa, 21 Desember 2022.
Upaya pengembangan sumber pangan selain beras harus ditingkatkan, khususnya pangan lokal yang memiliki karakter dan kesesuaian dengan agroklimat yang bervariasi di berbagai daerah, kata Sedana yang juga Ketua DPD HKTI Bali.

Sedana memberikan penekanan pada Undang-Undang No.8/2012 tentang Pangan yang menyebutkan bahwa negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. “Memang diakui juga bahwa dalam beberapa dekade terakhir, komoditas beras telah meminggirkan komoditas pangan lokal yang telah ada sebelumnya, sehingga warga masyarakat di Indonesia mengkonsumsi beras yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan karena komoditas padi (beras) menjadi komoditas yang diutamakan oleh pemerintah karena sifatnya sangat strategis, adanya hasrat pemerintah yang sangat tinggi untuk mewujudkan swasembada beras, sehingga beras telah menjadi menu utama masyarakat”, imbuh Sedana yang juga Ketua Perhepi Bali.

Terkait dengan kondisi ancaman krisis pangan global, pemerintah perlu melakukan revitalisasi pangan lokal dengan cara menumbuhkembangkan pangan lokal. Upaya alternatif yang dapat dilakukan adalah pelestarian pangan lokal, pengelolaan pangan lokal, pengembangan pangan lokal dan penganekaragaman pangan, ungkap Sedana yang mantan Dekan Fakultas Pertanian, Dwijendra University. “Dalam skala mikro, penyediaan pangan lokal yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga yang berkelanjutan, melalui kegiatan: pengembangan sistem produksi pangan lokal; pengembangan usahatani pangan lokal yang efisien, peningkatan produktivitas dan kualitas produksi pangan lokal melalui penerapan teknologi dan meningkatkan kapasitas warga dalam pengolahan pangan lokal”, rinci Sedana. [Win]















