Sunarpos.com| Karangasem| Subak sebagai salah satu komponen budaya Bali memiliki keunikan tersendiri dalam mengelola aktivitas pertanian khususnya di lahan sawah. Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra University, Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. pada saat memberikan presentasi tentang masalah dan tantangan subak pada masa kini dan mendatang di Jero Tumbuk, Desa Selat, Karangasem pada Senin, 29 Agustus 2022.
Masalah utama yang dihadapi oleh subak-subak secara umum di antaranya adalah ketersediaan air irigasi terutama pada pada saat musim kemarau dan bahkan saat kelebihan air di musim hujan yang sering mengakibatkan gagal panen. Secara ekonomis, kelemahan subak dan anggotanya adalah posisi tawarnya sangat rendah berkenaan dengan produk yang akan dijualnya, imbuh Sedana.

Kondisi tersebut harus dicarikan solusinya oleh pemerintah, swasta, kalangan akademisi guna membantu mengembangkan subak ke arah yang lebih baik, seperti peningkatan kesejahteraan petani anggota subak, menjaga lingkungan alam/ekologi/ekosistem serta terjaganya budaya pertanian pada lahan sawah di Bali.
Sedana yang juga Ketua DPD HKTI Bali mengungkapkan bahwa pengembangan subak ke depan sangat perlu diintensifkan karena subak memiliki mukti-fungsi. Beberapa fungsinya adalah fungsi produksi pangan dan hortikultura, fungsi hidrologis, fungsi ekologis, fungsi sosial-budaya, fungsi kepariwisataan (agrowisata/wisata agro dan ekowisata) dan fungsi pembangunan perdesaan. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah tentang keberlanjutan subak agar dapat secara riil implementasikan langsung bersama-sama subak yang disertai dengan pendampingan-pendampingan. Pendekatan secara sistemik dan inklusif sangat perlu dibangun dan ditata di dalam membangun pertanian di Bali yang berbasis subak, tambah Sedana. [Win]















