Beranda / Berita / Rektor Dwijendra Memperkenalkan Budaya Subak kepada Mahasiswa University of Maryland, USA

Rektor Dwijendra Memperkenalkan Budaya Subak kepada Mahasiswa University of Maryland, USA

Gianyar, Sunarpos.com

Subak sebagai salah satu warisan budaya yang ada di Bali dan Indonesia serta bahkan di Tingkat dunia harus dijaga kelestarian dan bahkan perlu dikembangkan guna memberikan kemanfaatan bagi manusia, lingkungan dan sosial budaya serta aspek lainnya. Demikian di sampaikan oleh  Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA. saat mengajak Mahasiswa dari University of Maryland School of Public Policy, USA langsung mengunjungi Subak Lodtunduh, di Kecamatan Ubud, Gianyar pada hari Selasa, 2 Januari 2024. Sedana yang didampingi oleh Pande Made Ari Ananta, SP.M.Agb. selaku Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University menyampaikan filosofi subak, yaitu Tri Hita Karana kepada mahasiswa Pascasarjana University of Maryland sebagai bagian yang sangat erat kaitannya dengan budaya subak.

Dipilihnya Subak Lodtunduh sebagai lokasi kunjungan didasarkan pada keberadaan subak tersebut sebagai Laboratorium Subak dari Pusat Penelitian Subak, Universitas Udayana yang sekaligus menjadi binaannya. Ketua Pusat Penelitian Subak, Prof. Dr. Ir. I Ketut Suamba, MP. mengungkapkan bahwa Subak Lodtunduh telah banyak melahirkan Sarjana, Magister dan bahkan Doktor bidang pertanian sejak saat awal didirikan oleh Prof. Dr. I Wayan Windia, SU (Almarhum).

Para peserta sangat antusias mengikuti kunjungan lapangan yang diindikasikan dari berbagai pertanyaan yang berkenaan dengan ketradisionalan subak tersebut. Sedana dengan senang hati memberikan penjelasan tentang sistem alokasi air irigasi yang secara lokal disebut dengan tektek, nyari dan istilah lainnya sambil menunjukkan tembuku (bangunan bagi air) di lahan sawah. Dalam alokasi air irigasi tersebut terkandung hak dan kewajiban para petani terhadap berbagai kontribusi atau ayahan dalam setiap kegiatan di Tingkat subak, lanjut Sedana memberikan penjelasannya. Selain itu, sistem pinjam-meminjam air juga langsung diperagakan oleh Sedana sambil memberikan cara meminjam air yang didasarkan pada konsensus dan ijin dari para petani yang akan meminjamkan air serta sepengetahuan pekaseh.

Pekaseh Subak Lodtunduh juga memberikan keterangan mengenai sistem pengemabilan keputusan di Tingkat subak yang berkenaan dengan pola tanam, jadwal tanam termasuk pilihan varietas padi.

Romongan mahasiswa yang dipimpin oleh Tom Hilde selaku Associate Research Professor dan Director of Indonesia and Peru Programs dan Senior Fellow, Center for Global Sustainability menyampaikan terima kasih kepada Sedana dan Prof. I Ketut Suamba serta pekaseh Subak Lodtunduh yang telah selalu memfasilitasi kegiatan kunjungan lapangan yang diselenggarakan setiap tahunm sejak 10 tahun yang lalu. (Maulin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *