Sunarpos.com| Denpasar| Arsitektur tradisional Bali dapat dimaknai sebagai pengelolaan tata letak dan tata ruang dari segala aspek kehidupan masyarakat Bali yang didasarkan pada nilai-nilai budaya yang telah tumbuh dan berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Demikian disampaikan oleh Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA. yang diundang sebagai salah satu pembicara pada acara Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali (PAKB) 2022 pada tanggal 26-27 November 2022 di Gedung Ksirarnawa, Denpasar.
Pada acara pesamuhan agung yang dibuka oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, diikuti oleh kalangan pakar budaya dan ilmu sosial guna mengidentifikasi nilai-nilai budaya, bentuk budaya dan bahkan aspek kesakralannya. Gede Sedana dalam presentasinya mengangkat topik Aspek Sakral Arsitektur Tradisional Bali yang didasarkan pada beberapa filosofi seperti tri hita karana, tri angga, tri loka dan berbagai nilai-nilai lokal atau local knowledge dan local wisdom yang tumbuh di Bali. Nilai-nilai ajaran Hindu juga sangat erat kaitannya dalam mempengaruhi Arsitektur Tradisional Bali meskipun terus diterpa oleh kuatnya pengaruh budaya luar. Nilai kesakralan Arsitektur Tradisional Bali menjadi salah satu faktor penguat bagi masyarakat Bali dalam mempertahankan dan melestarikannya.
Selain itu, kekuatan Arsitektur Tradisional Bali juga sangat dipengaruhi oleh adanya makna konsepsual di dalamnya yaitu mengandung makna religius, magis dan karismatis, ungkap Sedana. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya oleh pemerintah dan siapapun baik dari dunia akademik, desa pakramanan dan institusi ataupun orga isasi lainnya untuk senantiasa melakukan sosialisasi dan internalisasi mengenai nilai-nilai dan makna serta fungsi yang terkandung dalam Arsitektur Tradisional Bali tersebut guna semakin memperkuat dan melestarikanya, imbuh Sedana. (Win).















