Sunarpos.com| Opini| Dalam tradisi Hindu di Bali Dewa Pitara yang distanakan di Pelinggih Kamulan itu disebut Batara Hyang Guru. Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru yaitu Agni, yaitu sinar suci Hyang Widhi, Atman yaitu unsur yang tersuci dalam diri manusia yang berasal dari Brahman, Mata yaitu ibu yang melahirkan kita, Pita yaitu ayah menyebabkan kita lahir dan Acarya yaitu guru yang memberikan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang nampaknya di Bali menjadi ajaran Catur Guru yaitu Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wesesa.
Guru Swadyaya, adalah Ida Sang Hyang Widi Wasa, beliau pencipta seluruh alam semesta, maha besar dan maha sempurna maha esa ( ekam ewam adityam Brahman ). Guru rupaka adalah orang tua kita, yang telah melahirkan, memelihara, mendidik kita menjadi orang. Guru pengajian adalah mereka yang telah mengajar, mendidik dan melatih kita sampai kita memahami dan memaknai ilmu pengetahuan dan guru wisesa adalah pemerintah yang telah melindungi, memajukan kesejahteraan, menjamin kehidupan bermasyarakat berjalan aman dan sentosa.
Tradisi ini dimulai dari sadarnya Sang Watugunung, akhirnya beliau mengredana, menyembah Sang Hyang Siwa sebagai Sanghyang Permesti Guru yang telah menyadarkan, memberkati dan mengampuni segala dosanya, beliau menyadari kekeliruannya, dan bertobat untuk selalu berbuat kebajikan. Untuk menyadarkan umat manusia ahkirnya turunlah dewi Saraswati untuk memberikan ilmu pengetahuan, yang selalu berguna dan terus berguna bagi kehidupan manusia, pengetahuan seperti air yang mengalir, terus menerus dalam tradisi Bali disebut banyu pinaruh ( Pinih weruh ) dirayakan sehari setelah hari Saraswati, ilmu pengetahuan sebagai air suci yang dapat membersihkan segala dosa manusia, seperti cahaya yang dapat menerangi kegelapan kehidupan manusia.
Akhirnya untuk menguatkan hidup manusia, Ida Sang Hyang Widi Wasa beryoga pada hari Buda Keliwon Sinta, agar manusia memiliki kekuatan batin dan mental yang sempurna untuk menarungi kehidupannya.. Manusia bisa hidup kuat lahir dan batin seperti pagerwesi, sehingga buda keliwon sinta disebut Hari Raya Pagerwesi
Ida Sang Hyang Widi Wasa Maha pengasih dan penyayang dengan sifatnya di sebut Cadhu Sakti merupakan empat kemahakuasaan Tuhan, yang terdiri dari: Jnana Sakti ( Maha Tahu ), Krya sakti ( Maha Karya ), Wibhu Sakti ( Maha Ada ) dan Prabhu Sakti ( Maha Kuasa ).
Krya sakti Artinya Sang Hyang Widi sebagai seorang guru terus menurus berusaha menumbuh kesadaran umat manusia, untuk terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan . sehingga pada waktu perayaan Tumpek Landep beliau turun sebagai Sang Hyang Pasupati, mengasah ketajaman pikiran (landeping idep). Dengan pikiran yang tajam itulah diharapkan semua peralatan atau teknologi tersebut dapat menjadi produktif, tepat guna, dan bermanfaat bagi kehidupan. Karena ketulusan dan penuh kasih sayang kepada umat manusia, oleh batara Surya dan Dewi Saraswati beliau disebut Bhatara Guru.
Ida Sang Hyang Widi Wasa dipandang sebagai gurunya alam semesta dan para dewa serta pusat pengetahuan, seperti dijelaskan pada Sloka Guru Puja berikut ini:“Om Gurur rupam gurur dewam, Gurur Purwam Gurur Madhyam,Gurur pantaram dewam, Guru Dewa Sudhha- Atmakam” artinya Om Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Gurunya alam semesta dan para dewa, Awal mula tercipta guru dan juga merupakan pusatnya para guru. Gurunya para dewata yang agung. Guru yang suci bersih cemerlang yang menjiwai alam semesta.
Setelah permohonan itu tercapai, maka saatnya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa sebagai Guru Loka. Sehingga pengetahuan itu dapat dipahami, dan dapat berguna bagi kehidupan untuk hari depan.“Rasa terima kasih itu diucapkan sehari, setelah ketajaman Jnana dapat tercapai ( Tumpek Landep) kepada Sang Hyang Pasupati atau yang juga disebut Hyang Pramesti Guru,” sebut beliau.Sehingga hari Minggu Umanis Wuku Ukir, disebut juga sebagai piodalan Bhatara Hyang Guru, sebagai simbol ucapan terimakasih kepada Guru Loka atau Sang Hyang Widhi Wasa dalam memberikan tuntunan-Nya. Mari kita tuntut Ilmu dan terus berbakti dan menucap sukur kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai Guru Loka memberikan pengetahuan yang berguna dan penuh makna. Sebagaimana tercermin dalam motto Yayasan Dwijendra “Widhyati Durjaya Jaya Wijaya Jayanti” artinya mencapai pengetahuan yang “amat berguna”, “selalu berguna” dan “berguna seterusnya”. Dwijendra University,Maju, Hebat dan Besar. *)
*) Penulis
Drs. I Made Sila, M.Pd
Wakil Rektor II Dwijendra University
Ketua Pasraman Jnana Dwijendra















