Beranda / Opini / Pelarangan Obat Sirup dan Tips bagi Orang Tua Anak

Pelarangan Obat Sirup dan Tips bagi Orang Tua Anak

Oleh: Kristina Evi
Mahasiswa Prodi Ilkom Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Dwijendra University, Bali

Penyakit ginjal adalah penyakit sangat berbahaya yang menyerang salah satu organ tubuh manusia. Penyakit ginjal tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga bisa dialami oleh anak-anak, termasuk penyakit ginjal akut. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus gagal ginjal akut banyak menyerang anak-anak di Indonesia yang berusia 6 bulan sampai 18 tahun. Adanya kenaikan ini terjadi dalam kurun waktu 2 bulan terakhir. Per tanggal 18 Oktober 2022, sebanyak 189 kasus telah dilaporkan oleh Depkes dan paling banyak didominasi oleh anak berusia 1 – 5 tahun. Melihat adanya peningkatan kasus gagal ginjal akut tersebut, kementerian kesehatan bertindak cepat untuk menginformasikan kepada seluruh orang tua agar tetap waspada dan tidak panik, terutama ketika anak mengalami gejala yang mengarah pada gejala penyakit ginjal akut, seperti: diare, muntah, demam selama 3-5 hari, batuk dan pilek, jumlah air seni yang semakin sedikit, bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali. Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan mengajak masyarakat, khususnya orang tua untuk terus mengawasi perkembangan kesehatan anak, tidak panik dan bersegera untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak mengalami gejala yang mengarah kepada penyakit gagal ginjal akut (Kompas, 28/10/2022)

Kementerian Kesehatan resmi melarang dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meresepkan obat-obatan dalam bentuk cair atau sirup. Larangan ini merupakan bagian dari kewaspadaan di tengah melonjaknya kasus gagal ginjal akut yang sedikitnya telah menyebabkan 99 anak meninggal dunia. Sedikitnya 152 anak menderita gagal ginjal akut yang penyebab pastinya masih misterius. Kebanyakan pasien adalah anak di bawah usia 5 tahun. Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes menyatakan bahwa salah satu gejala utama dari gagal ginjal akut pada anak ini adalah terjadinya penurunan drastis volume air kencing yang dikeluarkan.Penurunan cepat dan tiba-tiba pada fungsi penyaringan ginjal. Biasanya ditandai dengan peningkatan nitrogen urea darah dan/atau penurunan sampai tidak ada produksi urin sama sekali.
Berdasarkan data yang dihimpun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga Jumat
(14/10/2022), 152 kasus gagal ginjal akut tersebut tersebar di 16 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Banten, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Jambi Kepulauan Riau, Papua Barat, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Meskipun telah ditemukan sejak Januari 2022, kasus yang disebut misterius ini baru mengalami pelonjakan signifikan pada September 2022. Hingga saat ini, penyebab gagal ginjal akut tersebut masih belum diketahui. IDAI menyebutkan bahwa fenomena ini masih belum konklusif atau menemukan titik terang terkait penyebabnya sehingga masih dibutuhkan investigasi lebih lanjut (Jawa Post, 20 /10/2022)
Kementerian Kesehatan hingga kini masih melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti lonjakan kasus gagal ginjal anak. Namun, dugaan sementara penyebabnya berkaitan dengan komponen atau senyawa yang terkandung dalam obat sirup yang dikonsumsi anak. Karena itu, sebagai langkah kewaspadaan, pemerintah telah melarang peredaran dan konsumsi semua obat dalam bentuk sirup. Obat yang dilarang adalah semua jenis obat dalam bentuk sirup atau cair, termasuk obat cair untuk dewasa, dan tidak terbatas pada obat paracetamol sirup saja. Namun juga larangan ini berlaku sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah (Surat Edaran Kemenkes No. SR.01.05/III/3461/2022)
Dengan adanya larangan obat sirup di atas, lalu bagaimana jika anak sakit? Dokter spesialis anak di Mayapada Hospital Kuningan, dr. Kurniawan Satria Denta menyampaikan bahwa ada beberapa tips bagi orang tua anak sebagai berikut ( Tabloid Nova: 1/11/2020):

  1. Anak yang demam masih bisa diberikan obat paracetamol, yang selain sirup yakni paracetamol tablet
  2. Meski ada beberapa sediaan paracetamol tablet, pasien diwajibkan untuk mengonsultasikan hal tersebut ke dokter sebelum mengonsumsi obat,
  3. Jika panas tubuh atau saat demam anak tidak mencapai 38 derajat celsius, maka anak yang sakit itu bisa diberi minum air putih yang agak banyak agar tidak dehidrasi. Kemudian, pasien bisa dikompres menggunakan handuk hangat. Selanjutnya, pasien dianjurkan untuk menggunakan baju tebal.
  4. Membiasakan diri untuk menjaga pola hidup sehat dan tetap menjaga obat yang dikonsumsi.
    Demikian tips kecil melalui tulisan artikel ini dan semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *