Waikabubak adalah ibu kota kabupaten Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Di kota tersebut banyak sekali ritual adat dan budaya yang sangat terkenal seperti tradisi PASOLA ( tradisi saling melempar lembing kayu di atas kuda) dan tradisi WULA PODDU ( ritual bulan suci). Terlepas dari kedua tradisi di atas ternyata masih banyak tradisi di Sumba yang belum terekspos dan di kenal oleh kalangan masyarakat sekitar, salah satunya seperti tradisi PAOUNA ATA MATE. Tradisi PAOUNA ATA MATE adalah tradisi yang di lakukan secara turun temurun oleh masyarakat Sumba Barat, dimana setiap daerah di Sumba memiliki cara tersendiri dalam melaksanakan tradisi PAOUNA ATA MATE ini. Mengenal lebih lanjut apa itu tradisi PAOUNA ATA MATE? ,jadi tradisi PAOUNA ATA MATE adalah tradisi yang dilakukan ketika memanggil arwah orang yang sudah meninggal. Tradisi ini hanya berlaku untuk orang yang meninggal secara tidak wajar seperti halnya orang yang meninggal karena kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri,orang tenggelam, jatuh dari pohon dan masih banyak lagi lainnya yang di anggap meninggal secara tidak wajar.
Jadi, tradisi PAOUNA ATA MATE biasanya dilaksanakan setelah tiga tahun dari meninggalnya orang yang di panggil arwahnya tersebut, dimana pada pelaksanaan PAOUNA ATA MATE ini tentunya kehadiran seorang RATO (petua adat) itu sangatlah penting, karena RATO itulah yang akan menuntun berjalannya pelaksanaan tradisi tersebut. Adapun langkah awal yang di lakukan dalam tradisi PAOUNA ATA MATE yaitu NOBBA/MANAWUT (sejenis doa adat). Kemudian langkah kedua dilanjutkan dengan adanya YAIWO dan DODO (Lantunan doa adat dalam bentuk nyanyian yang di iringi dengan musik gong), pada pelaksanaan YAIWO dan DODO ada beberapa hal yang harus di persiapkan oleh keluarga dari orang yang di panggil arwahnya tersebut, seperti kebutuhan NOBBA yaitu sirih, pinang, subi ( bola kecil yang terbuat dari daun pandan dan lotar),piring untuk KUOLAK(sejenis uang),ayam,babi dan seekor anak kambing. Yang ketiga barulah masuk ke pelaksanaan PAOUNA ATA MATE ,pada pelaksanaan ini biasanya berlangsung pada malam hari sampai pagi subuh, dengan di tandai adanya satu bintang di antara banyaknya bintang di langit yang akan terang sendiri dan tidak akan hilang sekalipun bintang yang lainnya sudah hilang. Pada saat itu keluarga dari orang yang di panggil arwahnya tersebut akan bergantian memanggil nama orang yang meninggal tersebut,dengan di iringi tangisan dan kalimat kalimat yang menyedihkan ( seperti halnya sedang merayu agar bintang tersebut segera turun) saat itu pula seekor anak kambing akan ikut berteriak seperti yang sedang menangis. Dalam kondisi itu , bintang tersebut akan turun apa bila sudah di panggil oleh orang yang tepat, dimana semasa hidup orang yang meninggal tersebut memiliki hubungan yang baik dengan orang yang memanggilnya pada saat tradisi itu dilaksanakan. Bintang itu juga tidak akan turun apabila di sekitar tempat berlangsungnya tradisi tersebut terdapat cahaya seperti cahaya lampu dan cahaya lainnya,tidak boleh ada gonggongan anjing semuanya harus gelap dan sunyi dan hanya seekor anak kambing saja yang berteriak serta suara keluarga orang meninggal tersebut yang memanggilnya,jadi pada saat tradisi berlangsung semuanya harus gelap, sehingga bintang tersebut dapat turun. Ada alasan tersendiri mengapa harus gelap? Karena menurut orang sumba agar arwah orang yang meninggal atau Bintang tersebut tidak malu untuk turun.
Tradisi ini bukanlah sebuah mitos,tapi tradisi ini adalah sebuah tradisi yang benar benar terjadi dan benar juga bahwa di tandai dengan adanya Bintang yang jatuh. Pada saat bintang itu jatuh, tepat dimana bintang itu jatuh akan di tandai dengan adanya kabut kecil. Ketika pihak keluarga maupun orang yang hadir pada saat tradisi itu mengetahui bahwa bintang sudah jatuh dan turun barulah di laksanakan lagi yang namanya ritual POGONA NAUTA, pada tradisi ini seorang dari pihak GOBA KADU atau PALOKA yang akan melakukan tradisi ini dengan cara memotong satu pohon pisang yang di sejajarkan dengan bambu kecil, kemudian orang yang mewakili pihak keluarga GOBA KADU (pihak keluarga yang yang wajib melakukan tradisi tersebut) atau PALOKA (pihak keluarga om dan tante) tersebut akan memotongnya yang kemudian akan di tandai dengan sedikit terangkat dan menonjolnya bagian tengah pohon pisang ( bagian terkecil dari pohon pisang yang biasa sering digunakan sebagai sayuran), tidak sembarangan orang yang melakukan ritual ini karena konsekuensinya bisa berakibat fatal apabila pada saat memotong batang pisang dan bambu tersebut terjadi kesalahan ,konsekuensinya yang terjadi biasanya adalah akan adanya lagi yang meninggal dari pihak keluarga GOBA KADU/PALOKA atau bisa juga keluarga dari orang yang di panggil arwahnya tersebut. Bahkan konsekuensi seperti ini sering terjadi bukan hanya keluarganya saja yang kena tetapi terkadang orang yang melakukan pemotongan pohon pisang dan bambu itu sendiri juga bisa meniggal.
Nah setelah tradisi POGONA NAUTA itu selesai barulah para RATO (tetua adat) menuju ke tempat jatuhnya bintang tersebut dan melaksanakan ritual MANAWUT/NOBBA lalu mengambil sebutir batu kerikil dan menyimpannya dalam SUBI ( bola kecil yang terbuat dari pandan dan lontar). Setelah itu barulah mereka membawa batu kerikil tersebut ke rumah dan kemudian di lanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu dengan istilah MARAI ATA MATE ( gali tulang belulang orang yang di panggil arwahnya tersebut). Sedikit penjelasan jadi kenapa harus batu kerikil yang di ambil? karena itulah yang di anggap arwah orang meninggal tersebut. Nah kembali lagi ke awal mula di mana pertama kali orang itu meninggal, semisalnya orang tersebut kecelakaan, tentunya tempat orang itu kecelakaan akan di lakukan yang namanya “deke diewa ata mate” atau ambil arwah orang meninggal, dengan di ambilnya juga sebutir batu kerikil.
Oleh: Bili Ringu Kabata
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Dwijendra














