Sunarpos.com/Denpasar
Pasokan pangan di tengh-tengah masyarakat sangat ditentukan oleh faktor lingkungan (fisik non-fisik) selain internal di tingkat petani. Para petani sebagai produsen memiliki berbagai keterbatasan di dalam melakukan pengolahan usahatani di lahannya sehingga memberikan kontribusi terhadap produksi yang dihasilkan. Lingkungan fisik yang mempengaruhi pengolaan usahatani para petani adalah cuaca yang sering tidak mendukung (kekeringan dan atau kelebihan air hujan), sementara mereka masih kesulitan untuk mengatasi situasi tersebut, sehingga ketahanan pangan bisa terganggu. Pada sisi lain, pemerintah telah berupaya dengan berbagai kebijakannya untuk membantu dan memfasilitasi para petani di dalam peningkatan produktivitas usahatani tanaman pangannya. Namun, upaya tersebut belum dapat diwujudkan secara maksimal di tingkat petani, khususnya dalam menghasilakn produksi pangan. Kebutuhan terhadap pangan senantiasa bertambah sering juga dengan pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, diperlukan langkah terobosan untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi warga masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan. Salah satu terobosan tersebut adalah membangun ketahanan pangan berbasis keluarga mandiri.
Keterpaduan pengolaan usahatani keluarga mandiri ini tidak saja berkenaan dengan berbagai komoditi pangan yang diusahakan tetapi juga memerlukan adanya keterpaduan program pemerintah, seperti dari Dinas Pertanian,Badan Pemerdayaan Masyarakat, Dinas Kesehatan dan Instansi lainnya yang terkait untuk secara sinergi memberikan edukasi kepada rumah tangga/keluargamelalui kelompok-kelompok kecil yang dibentuk. Optimal usahatani keluarga mandiri ini juga dapat dilakukan dengan melibatkan peran perempuan untuk mengelola usahatani sekaligus pendididkan kesehatan dan penyediaan gizi keluarganya. Peran perempuan didalam ketahanan pangan keluarga mandiri ini didorong untuk meningkatkan kreatifitas pemanfaatan pekarangan/kebun yang dimiliki, memperkuat kapasitasnya didalam pengelolaan ekonomi keluarga khususnyadalam penyediaan tahan pangan. Penguatan kelompok-kelompok perempuan agar terus dilakukan baik dari aspek teknik budidaya maupun non teknik seperti manajemen, administrasi dan organisasi. Di samping itu, kelompok-kelompok ini perlu difasilitasi penyediaan berbagai benih atau bibit yang layak secara ekonomis, teknis, sosial dan lingkungan untuk diusahakan di lahan pekarangan/kebunnya.
Pemerintah dan stakeholder lainnya dapat melakukan suatu gerakan yang massif dan intensif untuk pengolaan usahatani keluarga mandiri melalui pemanfaatan pekarangan/kebun. Sasaran gerakan ini adalah untuk memberikan jaminan bagi keluarga atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan bahan pangannya secara mandiri. Konsekuensi dari pengolaan usahatani keluarga mandiri ini adalah ketahanan pangan di tingkat kabupaten,provinsi bahkan nasional dapat diwujudkanmelalui skala kecil. Dalam skala yang lebih besar lagi(menengah), pemerintah dapat memfasilitas penyediaan lumbung-lumbung bahan pangan pada setiap sentra-sentrproduksi yang dihasilkan. Lumbung pangan inijuga akan memiliki manfaat untuk menjamin stabilitas ketersediaan pangan di tengah-tengah masyarakat . Selain itu, keterbatasan lumbung pangan dapat menjadi salah satu subsistem lumbung pangan dapat menjadi salah satu subsistem penyangga di dalam suatu ekosistem rarantai pokok pangan dari produsen sampai ke konsumen. Tentunyanpengelolaan lumbung pangan harus dilakukan secara profesional dengan standar prosudur operasional yang tersedia sehingga dapat dijamin berkelanjutannya.
*)Penulis
Marten Malo Katoda















