Guru sebagai agen pembaharaun dalam pembelajaran diharapkan berinovasi dalam proses pembelajaran. Inovasi yang dilakukan guru sangat bergantung kepada minat belajar siswa. Saat ini minat belajar siswa ditengarai menurun. Hal itu disebabkan oleh kompetensi literasi membaca siswa rendah. Guru tidak boleh menyerah menghadapi situasi seperti ini. Guru harus berinovasi dalam meningkatkan literasi membaca siswa. Guru diharapkan memanfaatkan sumber belajar dari bebrbagai sumber dan menyediakan teks-teks yang menarik minat baca siswa. Lingkungan kaya teks dimaknai sebagai lingkungan uang mana anak-anak berinteraksi dengan berbagai bentuk bahan cetak, termasuk tanda-tanda, sudut belajar yang berlabel, cerita dinding, displai kata, mural berlabel, papan buletin, grafik dan diagram, puisi, serta berbagai bahan cetak lain (Kadlic and Lesiak, 2003).
Selama ini, sumber bacaan yang ada di perpustakaan, pojok baca, dan teks yang tertempel di majalah dinding tidak ada pembaharuan. Sumber bacaan yang itu-itu saja membuat siswa enggan pergi ke perpustakaan dan pojok baca tidak dimanfaatkan oleh siswa. Bagaimana cara menciptkan lingkungan kaya teks? Ada beberpa kita yang dapat dilakukan untuk menciptkan kaya teks. 1) manfaatkan tugas siswa yang terbaik untuk dijadikan sumber bacaan bagi siswa lain. Tugas yang diberikan kepada siswa untuk membuat cerita ringkas dapat dipilih oleh guru. Cerita yang menarik yang telah dibuat oleh siswa yang berupa tulis tangan diketik oleh guru untuk dipajang di majalah dinding. Hal ini hendaknya dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. Hasil karya berupa pantun, puisi, dan prosa yang telah dibuat oleh anak dapat dipajang secara bergiliran pada majalah dinding. 2) Guru sebagai model dalam menciptakan lingkungan kaya teks. Hal ini berarti guru meningkatkan keterampilannya dalam menyediakan sumber bacaan bagi siswa. Guru diharapkan bisa menulis tentang sesuatu yang menarik bagi siswa. Di masyarakat masih banyak cerita lisan yang belum dibukukan. Guru dapat memanfaatkan cerita itu menjadi cerita yang menarik dengan berbatuan teknologi artificial intellegence (AI). Disamping itu, guru dapat meningkatkan imajinasinya membuat dongeng berlatar budaya suatu masyarakat. Dengan cara ini, pojok baca, majalah dinding, dan perpustakaan menyediakan sumber bacaan yang selalu baru.
Oleh Ni Made Mutu Sukarni
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia















