Beranda / Berita / Kuliah Umum Tri Hita Karana di Yayasan Dwijendra Bahas Budaya dalam Globalisasi

Kuliah Umum Tri Hita Karana di Yayasan Dwijendra Bahas Budaya dalam Globalisasi

Denpasar, 21 Mei 2024. Dalam kuliah umum bertajuk “Taksu & Jengah: Budaya dalam Globalisasi” di Universitas Dwijendra, Dr. Ida Bagus Dharmawijaya Mantra memaparkan konsep Tri Hita Karana sebagai falsafah hidup masyarakat Bali yang tangguh. Konsep ini mengandung tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, yaitu hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.

Transformasi Konsep Budaya

Mantra menekankan bahwa budaya merupakan proses mental berpola yang didasari gagasan adaptif. Ia mengaitkan konsep Tri Hita Karana dengan Triple Bottom Line John Elkington (1994) yang mencakup prosperty, people, dan planet untuk pembangunan berkelanjutan.

“Penafsiran dan pembentukan nilai atau norma baru memungkinkan bentuk berubah, tetapi jiwa atau esensi budaya tetap terjaga,” ujar Mantra. Ia menyerukan reinterpretasi, revitalisasi, adaptasi, dan reintegrasi konsep-konsep budaya untuk menjawab aspirasi masyarakat modern.

Peran Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Mantra menyoroti peran LPD sebagai lembaga keuangan kolektif masyarakat desa adat yang menjiwai nilai-nilai Tri Hita Karana. LPD mampu membantu desa adat menjalankan fungsi kulturalnya dengan menggabungkan nilai-nilai tradisional dan manajemen modern.

Menurutnya, potensi LPD terletak pada modal budaya kolektif atau “salunglung sabyantaka” (kesadaran untuk saling membantu). Hal ini menjadi keunggulan kompetitif LPD dibandingkan lembaga keuangan lainnya.

Budaya sebagai Modal Tak Berwujud

Dalam paparannya, Mantra menegaskan bahwa budaya merupakan modal tak berwujud (intangible asset) yang berkontribusi pada pendapatan dan manfaat bagi pemangku kepentingan. Ia menyerukan untuk membangkitkan kekuatan batin atau “jengah” dalam mentransformasikan aset tak berwujud menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.[

Kuliah umum yang dimoderatori Dr. Ida Bagus Bayu Brahmantya ini dibuka oleh Ketua Pengurus Yayasan Dwijendra, Dr. I Nyoman Satia Negara. Ia mengingatkan bahwa istilah Tri Hita Karana pertama kali dicetuskan pada Konferensi Daerah Badan Perjuangan Umat Hindu di Perguruan Dwijendra pada 11 November 1966.


[Arya]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *