Beranda / Opini / Implementasi Taksu dan Jengah dalam konsepTri Hita Karana

Implementasi Taksu dan Jengah dalam konsepTri Hita Karana

Sunarpos.com| Opini| Kuliah Umum dari Yayasan Dwijendra kali ini mengundang Nara Sumber Dr. Ida Bagus Rai Darma Wijaya Mantra, SE, M.Si membahas masalah konsep Tri Hita Karana dengan sub Tema Taksu dan Jengah, dijelaskan taksu orang Bali sesuai dengan DNA nya adalah kebanyakan seni dan budaya
I Wayan Padet & Ida Bagus Wika Krishna dalam Jurnal Genta Hredaya Volume 2, No. 2, September 2018 menyebut istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul saat Konferensi Daerah Badan Perjuangan Umat Hindu Bali di Perguruan Dwijendra Denpasar pada 11 Nopember 1966. Tri Hita Karana disebut sebagai konsep spiritual, kearifan lokal, sekaligus falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yang bertujuan untuk menciptakan keselasaran hidup manusia. Sejak saat itu istilah Tri Hita Karana berkembang pesat karena dianggap sebagai konsep yang sangat universal yuang dapat dikaitkan dalam berbagai konsep dalam membangun kehidupan yang bahagia lahir dan batin, termasuk dalam konsep taksu dan jengah.

Taksu dan Jengah sebenarnya kelau kita dalami sudah terjabar dalam hidup dan kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Di mulai dari seseorang yang akan mendirikan rumah, diawali dengan membangun pelinggih “Kemulan Taksu” yang merupakan penerusan dari DNA keluarga tersebut. DNA secara ilmiah adalah singkatan dari Deoxyribo Nucleic Acid. DNA merupakan molekul yang memuat seluruh instruksi genetik yang dibutuhkan oleh semua organisme dalam seluruh siklus hidupnya. Informasi genetik yang terdapat dalam DNA diturunkan oleh orang tua atau induk ke generasi berikutnya melalui reproduksi, DNA merupakan rantai molekul yang berisi materi genetik yang khas pada setiap makhluk hidup, materi hereditas (penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak) pada setiap manusia.
Pelinggih Kamulan, artinya adalah asal muasal, juga sering disebut kamimitan asal mula diri kita sendiri.yaitu berasal dari ayah dan ibu yang melahirkan dan mengasuh kita sampai dewasa. Pemujaan di kemulan merupakan manifestasi dari rasa cinta kita pada leluhur kita. Dalam Tutur Gong Besi yang bunyi dan arti Penjelasannya hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa. Sebagai berikut :
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kabemulan kiwa ibu ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.

Artinya:
Pada kemulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di Kemulan sebelah kanan (rong kiri) adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan sebelah kiri (rong kanan) adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.( Tuhan Yang Maha Esa )
Sebagaimana yang telah uraian di atas memuja pada Kemulan adalah memuja ketiga kecerdasan dasar yang merupakan manifestasi dari informasi yang diwariskan oleh leluhur, sehingga pemahaman konsep ini tidak menyimpang dari konsep pemujaan terhadap leluhur. Sesuai konsep keyakinan Agama Hindu esensi Tuhan adalah Esa namun disebut dengan berbagai nama, Dalam Chandogya Upanisad IV.2.1 yaitu “Ekam Eva Avityam Brahman” yang artinya “Tuhan itu hanya satu tidak ada yang kedua. Namun dalam kehidupan orang bijaksana menyebut dengan banyak nama, ekam sat wiprah bahuda wadanti.
Pelinggih Taksu adalah untuk memohon anugrah agar kita mempunyai aura yang positif seperti keutamaan dan kewibawaan, Kewibawaan berasal berasal dari bahasa kawi, kata wibawa yang berarti kekuasaan memberi perintah (yang harus ditaati). Taksu dalam agama Hindu diartikan sebagai pancaran kekuatan atau aura yang memancarkan kewibawaan, kecerdasan mental dan spritual, serta charisma yang dapat mengubah pola pikir, tingkah laku maupun cara bertutur kata oleh pemilik taksu tersebut.. Kewibawaan adalah suatu pancaran batin yang dapat mempengaruhi sikap pihak lain untuk mengakui, menerima dan menuruti dengan penuh pengertian . Secara umum agar memiliki kewibawa maka orang harus memiliki modal, seperti kualifikasi, kompetensi, dan kecerdasan dasar yaitu logika (IQ), emosional (EQ) dan insting (PQ) – Dalam bahasa Bali : Pepineh, Pengerasa, Kleteg Bayu.
Tugas kita adalah menggali seluruh potensi dalam diri kita agar dapat dipergunakan secara maksimal ini merupakan konsep jengah. Dimana kemampuan yang kita miliki harus terus menerus dikembangkan, diperjuangkan dan ditingkatkan dengan penuh dedikasi dan motivasi .
Tri hita karana berasal dari bahasa Sanskerta yang terbentuk dari tiga kata, yaitu Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan atau sejahtera, dan Karana artinya sebab atau penyebab. Dengan demikian, falsafah Tri Hita Karana mengandung makna tiga penyebab kebahagiaan. Implementasi taksu dan jengah menjadi spirtit dalam mewujudkan kehidupan yang bahagia yang berlandaskan pada hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya.*)

*) Drs. I Made Sila, M.Pd

Wakil Rektor II Dwijendra University dan Dosen Prodi PPKn, FKIP, Dwijendra University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *