Sunarpos.com/Denpasar
Hingga saat ini, pemerintah telah mengimplementasikan teknologi budidaya pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Aplikasi teknologi tersebut telah berhasil meningkatkan produktivitas tersebut ternyata belum mampu mendorong kenaikan pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan. Kondisi ini perlu penanganan yang lebih serius dari pemerintah agar sektor pertanian tetap menjadi harapan para petani termasuk generasi muda. Rendahnya pendapatan petani dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, seperti modal usahatani, pengetahuan, keterampilan tentang agribisnis, dan lain sebagainya termasuk rendahnya nilai tambah (volue added) produk pertanian yang dihasilkan oleh petani. Perbaikan atau peningkatan nilai tambah produk pertanian dapat dilakukan melalui hilirisasi pertanian.
Hilirisasi pertanian secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu proses pengelolaan produk pertanian melalui industri yang dikenal dengan sebutan agroindustri. Konsep yang diintroduksi dalam hilirisasi pertanian ini adalah konsep GUNA, yaitu guna bentuk, guna tempat, guna waktu dan guna milik. Melalui guna bentuk, produk pertanian harus diubah bentuknya menjadi beras, tepung, roti dan produk-produk olahan lainnya. Dengan adanya perubahan bentuk tersebut, tingkat harga yang diperoleh pasti akan menjadi lebih tinggi dan dapat dinikmati juga oleh petani atau kelompok petani. Perubahan bentuk inilah sangat membutuhkan industry perdesaan yang tepat guna dan mudah dikelola oleh petani atau kelompok petani.
Demikian juga halnya dengan guna waktu,proses hilirisasi pertanian membutuhkan adanya industri penyimpanan selain pengolahan produk. Penundaan waktu dalam penjualan produk pertanian dapat dilakukan jika tingkat harga saat itu masih rendah. Oleh karena itu, tempat-tempat penyimpanan produk melalui industri sangat penting dibangun di pedesaan sehingga produk pertanian dapat tersimpan secara baik dan tidak menjadi rusak, akibat sifatnya yang perishable. Oleh karena itu, produk tersebut masih memiliki kualitas yang baik melalui sistem penyimpanan yang baik dan tetap menghasilkan nilai tambah dan harga yang relative tinggi.
Dampak lain yang ditimbulkan dalam pembangunan hilirisasi pertanian di pedesaan adalah menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat, termasuk generasi muda. Kesempatan kerja di perdesaan memberikan manfaat dan jaminan menurunkan angka pengangguran dan mencegah adanya urbanisasi. Selain itu, perekonomian diperdesaan juga akan semakin lancar dan bertumbuh secara baik. Ini berarti bahwa konsep hillirisasi dapat diimplementasikan secara langsung di tingkat petani atau kelompok petani atau pelaku bisnis pertanian lainnya, guna memberikan nilai tambah dan peningkatan pendapatan masyarakat, termasuk keluarga petani. Dalam langkah awal, perlu dibangun industry yang sederhana yaitu dapat berupa kerajinanrumah tangga dan industri kecil yang berbasis produk-produk pertanian. Industri pertanian atau agroindustri harus dibangun secara terintegrasi baik vertikal maupunhorisontal, serta bersinergi dengan subsistem budidaya serta subsistem penunjang.
Pemerintah dapat memfasilitasi terbangunnya industripertanian atau agroindustri dikawasan perdesaan melalui kebijakan-kebijakan aktual selain menyelenggarakan pendampingan serta penyuluhan dan pelatihan bagi pelaku usaha pertanian (petani,kelompokpetani, subak,subak-abian dan pengelola agroindustri).
*)Penulis
Natalia Imat
Mahasiswa Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University















