SunarPos, Denpasar. Sidang Senat terbuka Dwijendra University, mengukuhkan Prof..Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.,M.M.A, sebagai guru besar tetap pertama Dwijendra University dalam bidang Ilmu Agribisnis, Kamis (14/09/2023) di Hongkong Garden Restaurant Denpasar

Acara pengukuhan guru besar dihadiri 250 tamu undangan dari berbagai kalangan, yakni dari para penglingsir puri di wilayah Kota Denpasar, kepala LLDikti , Ketua Aptisi Wilayah Bali, para rektor di lingkungan LLDikti Wilayah VIII (Bali), pembina, pengawas dan pengurus yayasan Dwijendra, unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat serta civitas akademika Dwijendra University.

Ketua Yayasan Dwijendra University Dr I Ketut Wirawan, S,H.,M.Hum, sangat mengapresiasi telah diraihnya pencapaian guru besar di Dwijendra University. Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena melalui perjuangan yang tidak mudah. Ketut Wirawan berharap momen pengukuhan guru besar pertama ini, menjadi pemantik semangat dan optimisme besar, terutama bagi civitas akademika Dwijendra University untuk terus berupaya memajukan kualitas pendidikannya. “acara ini merupakan pecah telur, dan diharapkan bisa menular kepada para dosen yang lainnya, sehingga suasasana akademik di Universitas Dwijendra bisa meningkat”, harap Ketut Wirawan
Sementara itu Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti ) Wilayah VIII A (Bali-NTB) Dr I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T.,M.T, mengatakan pihaknya juga bangga atas pengukuhan Gede Sedana sebagai guru besar di Dwijendra University. “Tentunya keberadaan guru besar akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan dan peningkatan kualitas di perguruan tinggi. Saya sangat berbahagia, Prof. Gede Sedana merupakan guru besar Pertama di Dwijendra University dan sebagai guru besar yang ke 45 dari 55 guru besar dilingkungan LLDikti Wilayah VIII (Bali-NTB)” ujarnya
Kepala LLDikti juga menambahkan, bahwa proses pengusulan guru besar Gede Sedana tergolong sangat cepat, karena kami yakini bahwa karya-karya ilmiah bidang agribisnis yang dihasilkan sangatlah kuat. “ Kami berharap Prof Gede Sedana bukan hanya guru besar di Dwijendra University, melainkan juga akan kami tunggu kiprahnya di Bali dibidang agrisbisnis dan selalu mencerahkan anak bangsa,” katanya di sela acara pengukuhan

Pada acara pengukuhan, Prof Gede Sedana juga menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Membangun Pertanian Pangan Inklusif”. Ia mengatakan produktivitas dan kualitas produk petani masih belum optimal dan selanjutnya penerimaan yang diperoleh dari usahataninya juga belum tinggi. Salah satu kebijakan yang selalu ditempuh oleh pemerintah adalah dengan cara instant yaitu impor beras dari negara tetangga. Menjadi ironi bagi Negara Indonesia yang memiliki sumberdaya alam melimpah tetapi belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Gede Sedana menjelaskan, perlunya mewujudkan pertanian inklusif untuk kesejahteraan petani. Pertanian inklusif melibatkan berbagai actor pasar yang memiliki saling ketergantungan dari hulu sampai ke hilir, termasuk pemerintah sebagai regulator dan akademisi atau NGO sebagai fasilitator dan pendamping.
“Pada pembentukan pertanian inklusif, diperlukan adanya penyusunan model business dan selanjutnya disiapkan results chain yang dijadikan sebagai pedoman dalam mewujudkan output dan outcome dari pertanian yang inklusif. Pertanian inklusif dapat dilakukan dengan melakukan digitalisasi mapping produksi pada lahan sawah, perbaikan praktik teknik budaya pertanian yang baik, penguatan kegiatan pasca panen dan membangun kemitraan bisnis,” demikian tandas Gede Sedana (TimHumasUndwi)
















