Sunarpos.com| Denpasar| Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dwijendra University menyelenggarakan seminar nasional yang mengangkat tema “Akselerasi Pendidikan Indonesia dalam Bingkai Merdeka Belajar” pada hari ini, Selasa (24/01/2023). Kegiatan Seminar Nasional FKIP ini dilaksanakan secara hibrid, digelar di Aula Sadhu Gochara Yayasan Dwijendra dan melalui Live Streaming di kanal Yotube Dwijendra University.

Dekan FKIP Dwijendra University, Bapak Dr.Drs. I Made Kartika, M.Si menunuturkan kegiatan seminar nasional ini serangkaian perayaan HUT ke-70 Yayasan Dwijendra dan mengkaji lebih mendalam terkait kebijakan merdeka belajar sebagai akselerasi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. “Sesuai dengan teori pendidikan, pada prinsipnya tidak ada anak yg bodoh dan masing-masing anak memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri . Untuk itu, harapnya mahasiswa FKIP sebagai calon guru nantinya mampu mengembangkan potensi anak melalui merdeka belajar”. ungkap Made Kartika dalam sambutannya.
Seminar yang dimoderatori oleh I Wayan Yudi Sudarmawan, S.Pd.,M.Pd ini, menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu: (1) Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd. M.Hum dari Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS), (2) Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc, M.MA dari Dwijendra University dan Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum dari Dwijendra University.

Penyampaian materi yang diawali oleh Prof Anam Sutopo mengungkapakan Merdeka belajar sebagai kemerdekaan dalam berfikir yang ditentukan oleh pendidik. Karena pendidik menjadi pusat dalam sistem pendidikan yang baru ini. Prof Anam juga mengungkapkan beberapa akslerasi dan tren pendidikan yang akan terjadi dalam pengimplementasian merdeka belajar.
“Akslerelasi dan tren pendidikan era merdeka belajar ditunjukan dengan beberapa hal, diantarannya: (1) Sistem pembelajaran yang akan berubah, yang tadinya hanya di dalam kelas beralih di luar kelas, pembelajaran akan lebih nyaman dan murid dapat berdiskusi dengan guru lebih leluasa. (2) Sistem pembelajaran harus/tidak lagi hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi lebih berani berargumentasi, mandiri, beradab, berkompetensi, sopan dan cerdik dalam bergaul. (3) Mendidik dengan hati, dimana proses pembelajaran diarahakan untuk mengembangakan dan mengaktualisasikan potensi yang terbaik dalam diri siswa. (4) Pengembangan konsep sekolah ramah anak. (5) Proses pendidikan harus menyenangkan dan menggembirakan”’, ungkap Sekretaris Rektor UMS ini.
Narasumber kedua, Bapak Gede Sedana mengungkapkan pengangguran “sering” dihubungkan dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak mendapatkan pekerjaan. Hal tidak terlepas dari belum tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja atau dunia industri. Rektor Dwijendra University ini menjelaskan pentingnya MBKM dalam membentuk link and match dengan dunia kerja/dunia industri.
“Program MBKM dan konsep link and match sebenarnya konsep learning by doing yaitu proses belajar dengan melakukan sesuatu sehingga dapat menjadi pengalaman nyata dan aktual, sehingga mampu mentransfer Iptek yang diperoleh (transfers of learning and principles)dan mampu menerapkan soft skill pada dunia nyata agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia industri”, ujar Gede Sedana.
Narasumber ketiga ,Bapak Ketut Suaradnyana mengungkapkan esensi dari merdeka belajar, yaitu kebebasan berpikir yang ditujukan kepada siswa dan guru, sehingga mendorong terbentuk karakter jiwa merdeka karena siswa dan guru dapat mengekplorasi pengetahuan dari lingkungannya, yang selama ini siswa dan guru belajar berdasarkan materi dari buku atau modul.

Prof Anam juga mengungkapakan beberapa tantangan bagi guru dalam mengimplementasikan merdeka belajar di sekolah, yaitu: keberanian guru untuk keluar dari zonasi nyaman sistem pendidikan, pengalaman program merdeka belajar, keterbatasan referensi dan keterampilan mengajar, serta minimnya fasilitas pendukung dan kualitas guru. Beliau juga memaparkan beberapa hal terkait pelaksanaan pembelajaran bagi guru.
“Hal terpenting buat guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah (1). Menciptakan Suasana Pembelajaran yang memungkinkan siswa menyerap sebanyak-banyaknya materi yang guru sampaikan; (2) Mengembangkan kepribadian siswa secara utuh melalui pengembangan ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik siswa; (3) Memberikan pembelajaran kepada siswa sesuai dengan target kurikulum yang harus dituntaskan”, jelasnya. Acara seminar nasional yang diikuti oleh 130 orang perserta secara luring dan 64 orang secara daring ini juga dirangkai dengan penandatanganan MOU antara FKIP Dwijendra University dengan Fakultas Pendidikan Universitas Triatmamulia dan penanda tanganan PKS antara Prodi PGSD, Dan Prodi Bahasa Inggris dari kedua universitas. [Win]















