Beranda / Berita / FILOSOPI TRI HITA KARANA BERLANDASKAN BUDAYA BALI

FILOSOPI TRI HITA KARANA BERLANDASKAN BUDAYA BALI

Denpasar, Sunarpos.com

Konsep Tri Hita Karana sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Bali. Tri Hita Karana mampu mengajegkan budaya Bali. Yayasan Dwijendra mengadakan kuliah umum bertempat di Aula Sadhu Gocara dengan mengundang narasumber Dr.Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E.,M.Si. Acara dimulai dengan sambutan oleh  ketua pengurus Yayasan Dwijendra Dr. I Nyoman Satia Negara,S.H.,M.H. Dalam sambutannya Yayasan Dwijendra siap mengembangkan insan pendidik yang berlandaskan Hindu dengan membangun budi pekerti yang baik, sopan santun serta berlandaskan Pancasila. Yayasan Dwijendra konsisten melestarikan lontar budaya hindu yang sudah memiliki konsep pilosofi Tri Hita Karana sembari mengatakan bahwa Tri Hita Karana tercetus pertama kali di Yayasan Dwijendra.

Kuliah umum ini dimoderatori oleh Ketua Pengawas Yayasan Dwijendra Dr. Ida Bagus Bayu Brahmantya,S.H.,M.H. yang diawali dengan pembacaan curiculum vitae narasumber. Pada awal pemaparannya Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E.,M.Si. mengatakan bahwa istilah Taksu dan Jengah dalam membangun budaya di dakam era globalisasi yang menjadi salah satu pemikiran dari mantan Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra menyatakan  DNA orang Bali adalah seni dan budaya. Budaya merupakan suatu proses mental yang berpola pada rasa, tindakan, pikiran yang didasari atas gagasan atau ide adaptif. Budaya merupakan ritual, aksara, seni, dan teknologi pendidikan.yang menjadi karakteristik budaya Bali harus terbuka, sekektif, dan adaptif. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra juga membahas  Tri Hita Karana yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan.  Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan palsafah hidup tangguh. Istilah ini muncul pertama kali pada 11 november 1968 di Yayasan Dwijendra. Selama ini Tri Hita Karana dapat menjiwai LPD (Lembaga Perkreditan Desa), dimana LPD membagi keuangan yg dimiliki secara kolektif oleh masyarakat melalui desa adat dengan tujuan membantu desa adat dalam menjalankan fungsi  kulturalnya. Dilanjutkan dengan  mengomentari keunggulan keunggulan daripada LPD selama ini tutupnya (Surata).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *