Sunarpos.com| Opini|
Banyak orang terjebak dengan cinta dan kebahagian sesaat dalam menjalin hubungan pertemanan atau pacar. Rasa takut, was-was, kesepian ditinggal pergi, menjadi alasan seseorang menjalani toxic relationship. Secara konseptual bahwa toxic relationship merupakan gangguan emosional yang diakibatkan oleh ketidaknyamanan diri sendiri terhadap lingkungan diantaranya problem pribadi, problem keluarga, ekonomi dan pacaran. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa remaja.
Dalam proses adaptasi diri dalam lingkungan remaja merupakan saat yang rentan hadirnya Toxic Relationship . Remaja yang sedang melakukan adaptasi dengan dengan lingkungan barunya tentu mencari tokoh atau figur yang dapat ditirunya, khususnya pada lingkungan sebayanya. Jika dalam proses ini lingkungan disekitarnya atau interaksi dengan sebayanya justru membuat sebuah pengekangan dengan adanya tindak perundungan, saling menyinggung, menyebarkan ujaran kebencian, hingga tindak kekerasan fisik lainnya yang melukai akan membentuk ”jalinan” Toxic Relationship.
Masalah datang dari berbagai sumber, entah dari luar maupun dari dalam diri, disadari maupun tidak disadari, dan mempengaruhi hubungan seseorang dengan pasangan. Tata pergaulan sepasang remaja di jaman modern ini banyak melanggar norma masyarakat dan sudah tidak sehat sehingga merusak diri sendiri dan membuat hancur di masa depan. Hal tersebut merupakan salah satu dampak Toxic relationship. Toxic relationship merupakan salah satu contoh dari bagaimana kemudian sebuah masalah mempengaruhi hubungan seseorang dengan pasangannya.
Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (INFODATIN) Tahun 2019, menyatakan bahwa gangguan depresi yang diklasifikasi berdasarkan usia sudah muncul sejak usia remaja (15-24 Tahun) dengan persentase 6,2%. Tentu patut menjadi perhatian semua pihak khususnya orang tua, sebab sudah mulai muncul gangguan depresi pada anak sejak usia remaja. Anak usia remaja sedang giatnya menjalin komunikasi dengan sebayanya. Namun pada usia remaja pula awal bagi seorang anak mengalami gangguan depresi. Adapun faktor pendorong terjadinya gangguan depresi pada remaja antara lain : tindak perundungan (bullying) yang terjadi diantara remaja, adanya konflik internal (keluarga) yang menjadi pemicu ledakan emosi, rasa kecewa yang tertahan, faktor lingkungan yang memang terdapat budaya perundungan, dan sebagainya. Seharusnya pada usia remaja, anak belajar untuk menjalin komunikasi pada teman sebaya nya dan membangun relasi dengan lingkungannya. Tetapi yang terjadi justru terjadinya gangguan depresi hingga membuat remaja terjebak dalam toxic relationship (hubungan tidak sehat).
Persoalan kesehatan jiwa di Indonesia memang masih belum dianggap serius oleh berbagai pihak. Khususnya di tengah masyarakat, kesehatan hanya didefinisikan sebagai sebuah keadaan secara jasmani yang sehat, baik secara fisik hingga kondisi sosial yang dapat mendukung seseorang untuk produktif. Padahal kesehatan tidak hanya berbicara mengenai jasmani saja, kesehatan jiwa juga perlu menjadi perhatian, terutama dari orang terdekatnya. Jika tidak ditangani secara serius dapat menyebabkan depresi yang merusak mental remaja. Dampak toxic relationship bagi remaja perlu bagi publik agar kalangan remaja tahu bahwa hubungan yang sudah toxic tidak perlu untuk dipertahankan karena akan menyakiti diri sendiri tanpa love self.
Banyak yang menjadikan toxic relationship sebagai pelampiasan atas emosi yang tidak tersalurkan dengan baik, atau adanya trauma psikis yang mendorong seorang remaja untuk melakukan tindak pembalasan terhadap orang lain. Toxic Relationship bermula dari sebuah komunikasi pasif melalui media maya yang telah menyinggung. Walaupun hanya bermaksud sebagai lelucon atau hanya sebagai konten di media sosial, tetap saja saat timbul rasa tidak nyaman atau mulai terjadi penarikan diri dari remaja yang disinggung dan akan memunculkan toxic relationship. Hal ini tidak menghasilkan komunikasi yang positif, justru menghadirkan sebuah kemunduran atau membuat batas yang mengekang. Toxic relationship disebabkan oleh sering menyakiti pasangan secara tidak sadar, tidak penuh kasih sayang, terlalu buta tentang cinta, kurangnya pendidikan, kurang percaya diri, tidak memiliki pilihan lain dan pengalaman buruk di masa lalu. Fenomena ini dapat menimbulkan dampak diantaranya: emosi bahkan dapat merusak mental remaja. Toxic relationship tidak hanya sekedar kehilangan kebahagiaan tetapi juga psikologis.
Apabila sikap dan perilaku yang dimunculkan oleh kelompok lingkungan sebaya pada remaja sesuai dengan aturan, norma masyarakat,moral atau agama sehingga komunikasi yang baik. Toxic Relationship dapat diatasi dengan memberikan contoh cara membangun sebuah interaksi dan komunikasi yang baik di mana dengan bercanda sewajarnya, saling mengerti, tentunya membuka sebuah sapaan komunikasi yang hangat dapat mengurangi faktor pemicu terjadinya toxic relationship. Toxic relationship tidak berujung pada hal yang lebih baik, maka hindari hubungan toxic relationship pada masa pacaran untuk kaum remaja, supaya tidak mengganggu kesehatan mental. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya seperti menjaga kesehatan fisik.
Masyarakat Indonesia perlu diberikan penyadaran untuk tidak permisif menyikapi perilaku toxic relationship. Salah satunya dengan mendampingi korban toxic agar tidak trauma. Sementara itu, bagi korban toxic agar lebih mencintai diri sendiri (self-love) demi terhindar dari pelaku toxic, sehingga kesehatan mentalnya tetap terjaga. Keluar dari Toxic relationship memang tidak mudah, namun perlu dicoba yaitu waktu adalah penyembuhan terbaik. Waktu untuk pulih dengan mengistirahatkan pikiran dan tubuh individu. Jadi dengan menggunakan waktu dapat kesempatan untuk introspeksi dan mengenal diri sendiri. Luangkan waktu untuk mengejar minat dan hobi. Lakukan hal-hal yang dulu yang disukai dan mulai nikmati hidup. Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan hidup, jangan menyerahkan kendali di tangan orang lain. Bila mengambil keputusan perlu menggunakan hati, pikiran dan kesadaran dengan sepenuhnya. Jika merasa sulit untuk melewatinya sendirian, dapatkan bantuan dari keluarga dan teman-teman atau penasihat profesional jika diperlukan. Terkadang solusi ada di dalam diri sendiri. *)
*) Syumiketlin
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi & Bisnis Dwijendra University















