Sebagian besar penduduk masyarakat tinggal di perdesaan, dimana salah satu kelompok masyarakat yang miskin termasuk miskin ekstrim adalah berada pada sektor pertanian. Kemiskinan eksterim yang ada di Indonesia termasuk di Bali adalah harus segera diatasi dan dientaskan sehingga program pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat dapat terwujud. Kemiskinan juga merupakan salah satu tujuan dari pembangunan berkelanjutan yang dikenal dengan sebutan Sustainable Development Goals yang sudah digaungkan oleh berbagai negara.
Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra, Gede Sedana pada “The 10th International Conference on Agriculture, Food security, stopping crop losses” yang diselenggarakan di Dwijendra University pada tanggal 18-19 September 2023.

Gede Sedana dalam paparannya sebagai keynote speaker mengungkapkan kemiskinan petani dapat dientaskan melalui pengenalan dan pengembangan kegiatan produktif sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimilikinya, meskipun dalam serba terbatas. Kegiatan produktif di perdesaan ditujukan untuk mengurangi ketergantungan mereka secara perlahan hingga mampu mandiri dalam berproduksi. Salah satu konsep yang dapat dilakukan adalah penerapan pertanian yang inklusif dan integrasi antara pembangunan dengan pembangunan perdesaan pada berbagai bidang atau sektor. Dalam pertanian Inklusif tersebut, Sedana menegaskan seluruh aktor pasar yang terkait harus dilibatkan dalam suatu model bisnis, misalnya inclusive business on rice farming. Pada kegiatan ini, para petani diberikan peran aktif untuk memulai GB kegiatan bisnis meskipun dimulai dari skala yang kecil. Penguatan kapasitas para petani kecil dan miskin menjadi dasar yang utama dalam membangun dan mengubah mindset mereka untuk semakin meningkatkan pendapatannya.
Sedana yang juga Ketua DPD HKTI Bali menegaskan bahwa program Penjabat Gubernur Bali yang berkenaan dengan Pengentasan Kemiskinan Ekstrim Nol persen. Sinergi dan integrasi antar sektor dan lintas institusi atau organisasi adalah suatu instrument yang penting yang harus dilakukan dengan orkestra yang harmoni sehingga program pengentasan kemiskinan di Bali dapat terwujud dan bahkan program-program berkelanjutan yang memandirikan masyarakat, termasuk mereka yang tergolong kemiskinan ekstrim dapat terentaskan, imbuh Sedana (Maulin).














