Sunarpos.com| Opini| Dunia digemparkan dengan kehadiran Resesi, dimana semua negara akan mengalami resesi yang cukup menyeramkan. Resesi adalah kondisi ekonomi negara yang memburuk karena penurunan Produk Domestik Bruto (PDB), penggangguran meningkat, hingga pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan tahun ini dunia menghadapi situasi yang sulit, dan tahun depan dunia akan gelap. Hal ini terjadi karena krisis energi, pertumbuhan ekonomi turun tetapi inflasi melonjak, harga-harga barang semua naik. Presiden Jokowi mengungkap hal itu setelah mendapat bocoran dari PBB hingga IMF. Mayoritas yang terdampak resesi ini adalah masyarakat menengah ke bawah. Sebagaimana telah terjadi bahwa resesi pertama yaitu dampak dari pandemi atau virus corona covid-19 yang masih berlangsung lama yang membuat sejumlah negara mengalami resesi ekonomi. Selama resesi banyak orang yang akan kehilang pekerjaan, perusahaan membuat sedikit produk penjualan, bahkan harga produk pun secara tiba-tiba menjadi mahal.
Prediksi resesi kedua akan terjadi tahun 2023, yang telah menjadi isu hangat dan terus menguat menjelang akhir tahun 2022. Peristiwa yang terjadi saat ini, seperti perang antara Rusia dan Ukraina, gangguan rantai pasukan, krisis energi dan pangan, pengetatan kebijakan moneter yang diserukan oleh Bank Amerika Serikat (The Federal Reserve System) atau The Fed, kebijakan lockdown, serta stagflasi untuk memukul pertumbuhan ekonomi global.
Isu resesi 2023 menjelma menjadi prediksi yang sangat diantisipasi oleh berbagai pihak, tidak terkecuali genersai muda. Berbagai langkah mitigasi pun diupayakan, mulai dari seruan untuk menghemat, membuat prioritas keuangan yang baik, menyimpan uang dalam bentuk cash dan tidak menyimpan dalam Bank, sampai memilih investasi saham yang tepat.
Salah satu yang menjadi pemicu munculnya isu resesi global adalah inflasi yang hampir terjadi di seluruh dunia yang tidak diimbangi dengan naiknya tingkat ekonomi dan daya beli masyarakat. Tekanan inflasi global yang melanda hampir semua negara, khususnya Indonesia, berdampak pada peningkatan harga-harga pokok kebutuhan. Pemerintah juga telah berupaya memperkuat belanja masyarakat dengan akselerasi bantuan sosial, menaikan besaran bantuan atau belanaja perlindungan sosial, dan menambah frekuensi atau memperpanjang periode perlindungan sosial. Meski dengan dukungan pemerintah, masyarakat disarankan untuk tidak serta merata menjadi lalai dalam menjaga stabilitas keuangan pribadinya. Indonesia sendiri, tampaknya sedikit lega karena IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tetap mengalami pertumbuhan hingga 5,3% pada tahun ini dan 5% pada tahun 2023 (cnbcindonesia.com, 22/10/2022). Namun berbagai pihak juga menyatakan bahwa prospek ekonomi Indonesia bisa menjadi batu sandungan yang turut memberi dampak pada resesi.
Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing, baik pemerintah maupun swasta maka jumlah mata uang lokal yang dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat. Jika kondisi tak kunjung membaik maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit naik, serta pelemahan mata uang lokal, yang akhirnya akan berisiko menyebabkan krisis ekonomi global.
Menyikapi ancaman resesi ekonomi ataupun mencegah kondisi resesi ekonomi lebih dalam, pemerintah Indonesia telah melakukan kebijakkan seperti fiskal dan moneter untuk memberikan dukungan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Dukungan terhadap sektor-sektor yang terdampak menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk menghidupakan kembali aktivitas ekonomi, seperti UMKM maupun kelompok bisnis lainnya. Di samping itu, kestabilan nilai mata uang juga menjadi fokus dari kebijakan monetor disetiap negara. Melalui langkah-langkah kebijakan yang diambil tersebut diharapkan pemulihan ekonomi dapat terealisasi dengan baik. Namun demikian pemulihan ekonomi pada masa Covid-19 juga harus sejalan dengan upaya mengurangi tingkat perluasan kasus Covid-19 untuk mencegah terjadinya krisis kesehatan lebih lanjut. *)
*) Astri Yultiani Lidia
Mahasiswa Prodi PBID, FKIP, Dwijendra University yang sedang mengikuti Program Pertukaran Pelajar antar Prodi pada Program MBKM di Prodi Ilmu Komunikasi, FikomBis, Dwijendra University















