Rektor Dwijendra Dorong GenZ untuk Mencintai Budaya Bali

Budaya Bali merupakan perpaduan yang sangat harmonis dan mengental antara alam Bali (sekala dan niskala), manusia Bali dengan berbagai ragam norma sosial, nilai-nilai tradisional, kearifan lokal, adat istiadat, yang tumbuh sejak peradaban Bali muncul, dan berkembang hingga saat ini; dan spiritualitas yang dilandasi oleh Agama Hindu dan Kesusasteraan Hindu Bali. Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra, Gede Sedana saat memberikan pengantar pada Kuliah Umum yang bertemakan GenZ Generasi Penerus Budaya Bali, Membangun Peradaban Budaya Bali yang diselenggarakan oleh Dwijendra University pada Jumat, 10 Mei 2024 di Aula Sadu Gocara Yayasan Dwijendra.
Sedana selaku moderator menyampaikan bahwa Budaya Bali inilah yang melandasi visi dan misi Dwijendra University di bawah naungan Yayasan Dwijendra. Oleh karena itu, kuliah umum yang bertemakan membangun peradaban masa depan Bali sangat relevan diselenggarakan guna mendorong GenZ sebagai Penerus masa depan Bali untuk dapat semakin meningkatkan pengetahuan, pemahamannya guna memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Budaya Bali dan bahkan memperkuatnya di dalam menghadapi berbagai terpaan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, maju dan modern.


Seperti diwartakan juga bahwa Wayan Koster, Gubernur Bali periode 2018-2023 diminta untuk menjadi nara sumber pada Kuliah Umum tersebut.
Ketua Yayasan Dwijendra, Dr. Nyoman Satia Negara, SH.MH. dalam sambutannya menyampaikan bahwa
visi dan misi Yayasan Dwijendra sangat erat kaitannya dengan Agama Hindu, Kebudayaan dan Kesustraan Bali, sehingga sangat mendukung penyelenggaraan Kuliah Umum ini karena sangat relevan dengan visi dan misi Yayasan Dwijendra, dan budaya Bali perlu semakin diperkuat dan dikembangkan di dalam pembangunan Bali di saat ini dan di masa mendatang. Kuliah Umum menghadirkan Dr. Ir. Wayan Koster, MM sebagai Nara Sumber yang memaparkan tentang GenZ generasi muda, mahasiswa, siswa, yang harus menjadi penerus masa depan Bali dan GenZ tidak semata-mata sebagai obyek tetapi menjadi subyek atau pemain untuk berperan aktif dalam menjaga peradaban Bali dan masa depannya. Koster juga mengungkapkan adanya beberapa masalah dan tantangan yang dihadapi seperti wilayah Bali relatif kecil dibandingkan dengan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, tetapi memiliki anugrah daya tarik sehingga bisa terjadi ekploitasi thd alam Bali. Masalah lainnya adalah penduduk Bali 4.3 juta dengan pertumbuhan penduduk sekitar 1.01% berpotensi menurunnya populasi orang Bali sebagai pelaku utama aktivitas budaya Bali. Selain itu, terkikisnya nilai-nilai budaya Bali dan sumberdaya alam semakin terbatas karena ekploitasi dan berdampak terhadap sumber kehidupan di Bali. Kebutuhan pangan strategis semakin tergantung dari luar dan kebutuhannya semakin meningkat juga menjadi masalah dan tantangan, imbuh Koster.
Masa depan Bali adalah terwujudnya
tradisi dan adat tetap ajeg, Alam Bali yang lestari dan harmonis, manusia Bali unggul, Bali berdaulat pangan, Bali mandiri energi, yaitu energi bersih, adaptif terhadap perkembangan jaman (teknologi Informasi dan digitalisasi). Selain itu, masa depan Bali adalah terbangunya Infrastruktur yang semakin maju dan modern dan kehidupan masyarakat Bali yang sejahtera, bahagia sekala niskala, imbuh Koster. (Maulin).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *