Rektor Dwijendra: Literasi Keagamaan Sangat Relevan dengan Visi Yayasan Dwijendra

Sunarpos.com| Yogjakarta| Rektor Dwijendra Hadiri Semnas Manuskrip Keagamaan Nusantara dan Festival Literasi Keagamaan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu pada tanggal 16 November 2023 di Loman Park Hotel, Yogyakarta. Acara Semnas yang dibuka di Candi Prambanan oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. I Nengah Duija dihadiri oleh perwakilan Institusi Pendidikan Hindu se Indonesia, termasuk Universitas Dwijendra. Rektor Dwijendra, Gede Sedana bersama-sama dengan organ Yayasan Dwijendra (Pembina, Pengurus dan Pengawas) memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Dirjen Bimas Hindu karena telah memberikan kesempatan kepada Yayasan Dwijendra untuk berpartisipasi dalam kegiatan Semnas, terlebih lagi tema yang diangkat sangat relevan dengan visi dan misi Yayasan Dwijendra.

Sedana menyampaikan bahwa Dwijendra University perlu mengagendakan program dan kegiatan yang berkenaan dengan moderasi beragama dan literasi keagamaan yang menghadirkan tokoh-tokoh Hindu di Indonesia. Hal ini disambut baik oleh Ketua Yayasan Dwijendra, Dr. I Ketut Wirawan, SH.M.Hum. dalam upaya semakin memperkuat kajian-kajian Agama Hindu dan Budaya Bali sehingga Dwijendra menjadi center of excellence tentang pengembangan Agama Hindu di Bali. Ketua Pembina Yayasan Dwijendra Dr. Ida Bagus Erwin Ranawijaya, SH, MH. dan Made Bagus Dicky Arya Brahmantya S. E., M. Comm. dan Pengawas, I Wayan Astawa Jaya, SH. yang juga hadir dalam Semnas tersebut mendorong agar Dwijendra semakin diperkuat dan dikembangkan aktivitasnya untuk mewujudnyatakan visi dan misi Yayasan Dwijendra.

Dr. A.A. Ari Dwipayana, Koordinator Staf Khusus Presiden sebagai keynote speaker mengungkapkan bahwa anak muda agar didorong untuk melibatkan diri dalam pengenalan manuskrip keagamaan, misalnya melalui media-media yang memberikan ketertarikan terhadap pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Selain itu, dapat diperkenalkan melalui seni, seperti pementasan seni yang mengandung wirasa, wiraga dan wirama, sehingga pesan-pesan dalam manuskrip dapat dikenal, dipahami dan menjadi pedoman dalm kehidupan. Sehingga yang diperlukan dalam mengangkat kembali manuskrip keagamaan adalah dengan cara menemukan kembali, memperdalam, scientifikasi dan edukasi yang melibatkan anak muda, imbuh Ari Dwipayana (Maulin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *