Penyerahan Mahasiswa PKL  Dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University  Di  Desa Anggabaya

 

Sunarpos.com| Denpasar| Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pada mahasiswa di lingkungan akademisi salah satunya melalui Praktek Kerja Lapangan (PKL). PKL ini dilaksanakan pada mahasiswa semester akhir dalam meningkatkan kompetensi ilmu yang didapatkan dalam dunia kampus dan mengaplikasikannya secara langsung pada masyarakat.

Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Dwijendra (FPB Undwi) pada hari Jumat, tanggal 1 April 2022 melaksanakan dua kegiatan yaitu penyerahan mahasiswa PKL dan pengabdian masyarakat di Desa Anggabaya, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Penyerahan PKL dan Pengabdian masyarakat ini dihadiri langsung oleh pembicara Dr. Ir. Gede Sedana M.Sc.,M.M.A, yaitu Rektor Dwijendra University, yang ahli dan berpengalaman dalam pengembangan agrowisata secara nasional dan internasional.

Penyerahan mahiswa PKL yang berjumlah 38 mahasiswa/mahasiswi ini langsung diserahkan secara simbolis oleh Dr. Ir. Ni Ketut Karyati, M.P., selaku Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis Dwijendra University, kepada Pekaseh Subak Anggabaya I Made Wija. Penyerahan mahasiswa PKL ini didampingi oleh Lurah Penatih I Wayan Astawa, Kepala Lingkungan I Made Arya, Kaprodi Agribisnis Kadek Ayu Charisma Julia Dewi, S.P.,M.P., dan Kaprodi Agroteknologi Made Mika Mega Astuthi, S.P., M.P., serta perwakilan dosen.

Dalam sambutannya Ni Ketut Karyati mengatakan PKL dan pengabdian masyarakat merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada setiap tahunnya, dengan tujuan mahasiswa dapat membangun komunikasi, interaksi yang baik kepada masyarakat, serta belajar menemukan masalah dan memecahkan masalah berdasarkan ilmu yang mereka peroleh dalam dunia kampus. Subak Anggabaya dipilih dengan pertimbangan subak ini masih eksis mempertahankan pertanian ditengah serbuan para pendatang walaupun letaknya di kota besar seperti Denpasar. Pertimbangan lainnya di Subak Anggabaya ini memiliki agrowisata yang merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan petani. Lurah Penatih I Wayan Astawa mengatakan permasalahan yang sering terjadi selama ini yaitu kecilnya minat pemuda dalam bertani, alih fungsi lahan sering terjadi serta kebutuhan penduduk akan pangan terus meningkat. Sehingga perlu dicarikan solusi untuk mengatasinya disisi lain supaya Subak tetap Lestari. Harapannya pun tertuju pada mahasiswa PKL untuk memecahkan masalahnya.

Dr. Ir. Gede Sedana M.Sc., M.M.A, yang juga Rektor Dwijendra University berbagi pengalaman dengan petani yang ada di Subak Anggabaya. Dimulai dengan betapa besarnya peran petani dalam kehidupan dan betapa mulianya petani kita yang ada di Bali ini. Walaupun sering mengalami permasalahan petani terus bersabar mulai dari harga pupuk yang mahal, sering terjadi serangan hama sampai harga gabah yang masih rendah.

Dengan telah ditetapkannya desa atau subak oleh pemerintah  sebagai ekowisata, desa wisata, agrowisata perlu kerjasama yang kuat dalam mengembangkannya. Kerjasama ini tidak lepas dari peran adat, subak dan pemerintah sehingga timbul keharmonisan. Penetapan ini pada dasarnya bertujuan untuk membangun petani, memelihara konservasi serta mempertahankan adat istiadat yang ada didalam suatu subak, sehingga diperoleh suatu pendapatan petani yang lebih baik.

Berdasarkan pengalaman tersebut Subak Anggabaya diharapkan menjalin kerjasama dengan lembaga adat, dinas dan stakeholder lainnya didalam melakukan pengembangan agrowisata, dengan melihat potensi genius lokal yang telah ada. Perlu menyiapkan suatu yang menarik, dan penataan lanscap yang unik sebagai icon subak. Prinsip dasar dari pengembangan agrowisata yaitu dengan menerapkan “Sapta Pesona” meliputi: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan.

Penyerahan dan pengabdian masyarakat ini diikuti dengan sangat auntusias sekali oleh para petani dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan pertanyaan oleh petani mengenai hal-hal apa yang seharusnya dilakukan di Subak Anggabaya untuk pengembangan agrowisatanya kedepan. Hal tersebut dijawab dengan ringkas, tegas dan berdasarkan pengalaman nasional dan internasional oleh Rektor Dwijendra University  (Surata).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *