Fakultas Pertanian dan Bisnis Dwijendra University selenggarakan Webinar tentang Kebangkitan Pertanian

Di Indonesia, pembangunan pertanian hakekatnya adalah integral dari pembangunan ekonomi, sehingga di dalam pembangunan suatu wilayah tidak dapat dikesampingkan pembangunan pertanian itu sendiri. Bahkan, tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian masih memberikan sumbangan yang signifikan bagi perekonomian nasional. Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra University, Gede Sedana dalam sambutannya saat membuka Webinar Nasional tentang Kebangiktan Pertanian Menuju Indonesia Tangguh pada hari Rabu, 23 Maret 2022. Webinar tersebut didasarkan pada keterpurukan pertumbuhan ekonomi tersebut telah menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan bagi masyarakat dan pelaku ekonomi. Berbagai pertanyaan muncul, di antaranya adalah apakah sektor pertanian hanya sebagai batu loncatan dan akan ditinggalkan lagi setelah perekonomian pulih?; dan apakah sektor pertanian bernar-benar bangkit secara bertahap dan berkelanjutan?

Webinar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University bersama-sama dengan Perhepi Komda Denpasar, HKTI Bali, P-ADRI Bali dan Stiper Flores Bajawa juga menghadirkan nara sumber dari Indonesia Bagian Barat sampai Timur, yaitu Prof. Ir. Yonariza, M.Sc., Phd. (Wakil Direktur I Pascasarjana UNAND); Prof. Dr. Drh. Agik Suprayogi, M.Sc. (Ketua Program Sekolah Peternakan Rakyat IPB university); Prof. Dr. Rer. Nat. Junun Sartohadi, M.Sc. (Kepala Pusat Studi Agroekologi dan Sumber daya Lahan UGM); Prof. Dr. I Wayan Budiasa, SP., MP. (Wakil Direktur I Pascasarjana UNUD), Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt., M.Si. (Ketua STIPER Flores Bajawa); dan juga Gede Sedana.

            Pada webinar tersebut dihadirkan Prof. Ir. H. Bustanul Arifin, M.Sc.Ph.D. selaku Ketua Umum Perhepi Pusat yang menyampaikan beberapa hal seperti Ekonomi Indonesia masa Covid-19 dimana pemulihan mulai terlihat  jaju inflasi terkendali rendah, tapi peluang naik pada 2022; pendalaman khusus beberapa komoditas pangan strategis; harapan pertanian tangguh pada petani milenial; sistem pertanian terpadu dan pertanian kecil modern. Prof. Bustanul juga menyampaikan rekomendasi kebijakan ke depan, yaitu Kebangkitan pertanian Indonesia tergantung pada strategi komprehensif dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan peningkatan pendapatan petani; perubahan teknologi pangan-pertanian, perbaikan R&D, penyempurnaan ekosistem inovasi untuk meningkatkan TFP, kerjasama quadruple helix ABGC. Selain itu, disebutkan juga bahwa diperlukan adanya pembangunan pertanian tangguh, climate-smart, bioteknologi modern, pertanian presisi, digitasilisasi rantai nilai, kontribusi penanganan stunting; pengembangan pangan lokal perlu bervisi diversifikasi produksi, diversifikasi pangan dan gizi seimbang, memanfaatkan karbohidrat kompeks dan kaya gizi. Integrasi pangan lokal, industri kuliner, kearifan lokal, perubahan pola pangan sehat, beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA), pengindustrian pangan juga menjadi rekomendasi yang disampaikan yang disertai juga dengan adanya investasi modal manusia adalah Trisula pendidikan, pelatihan, penyuluhan pertanian untuk menggapai perubahan teknologi yang berubah amat cepat.

Prof. Sartohadi menyampaikan bahwa Keberlanjutan lahan pertanian ditentukan oleh pengendalian proses geomorfologi yang ada sehingga tidak menimbulkan kejadian bencana lingkungan Pengendalian proses geomorfologi dimulai pada saat intensitas proses masih rendah Teknik pengendalian proses geomorfologi bersifat spesifik lokasi – berbeda di setiap tipe dan intensitas. Prof. Agik mendorong untuk dibangun dan memperkuat Sekolah Peternakan rakyat yang memiliki tujuan untuk: Menkonsolidasikan peternak, ternak beserta seluruh aset produksinya untuk dapat diusahakan secara kolektif berjamaah melalui pembelajaran partisipatif; menggalang kerjasama dengan berbagai pihak terutama perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha; membangun kapasitas sumberdaya peternak dalam menjalankan bisnis kolektif berjamaah; meningkatkan populasi dan produksi ternak melalui pembiakan ternak yang baik, terstruktur dan tersistem; dan mempersatukan komunitas peternak dan memperkuat militansinya sebagai penyedia bahan baku pangan asal ternak bagi bangsa Indonesia.

Di sisi lain, Prof. Yonariza mengungkapkan bahwa untuk membangkitkan pertanian melalui penguatan sumberdaya alam menuju Indonesia tangguh diperlukan implementasi studi dan kebijakan perluasan lahan pertanian dan pembangunan infrastruktur pengairan dan mewujudkan Indonesia yang swasembada pangan. Sementara itu, Prof. Budiasa menyampaikan beberapa strategi ketahanan pangan mandiri dan berkelanjutan, di antaranya adalah pengembangan puslit basis tropika dan basis dasar (termasuk lab uji mutu pertanian); peningkatan SDM pertanian (GAP, GMP, Quality Management, Smart Farming);  Penguatan kelembagaan dan kewirausahaan petani; pengembangan Lembaga Sertifikasi (Organic, Sustainable, Fair Trade, HACPP, Halal); dan pengendalian konversi lahan pertanian (LP2B dan insentif).

Nicolaus menyebutkan bahwa program pengembangan Tante Nela Paris (pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata) dapat dilakukan dengan pengembangan metode pertanian berorientasi agribisnis; pemanfaatan lahan tidur, lahan kering dan perbukitan;  peningkatan adopsi Iptek pertanian; peningkatan kondusivitas iklim investasi; peningkatan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan; peningkatan sarana dan prasarana pertanian dan pariwisata; pengembangan kelembagaan pertanian dan pariwisata berbasis korporasi (Industri Rumah Tangga, BUMDes, BUMD).

Webinar yang dipandu oleh Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Dwijendra yaitu Intan Maulina berlangsung dalam suasana interaktif dan memunculkan rencana membangun kemitraan antar perguruan tinggi, seperti IPB, Dwijendra University, Stiper Flores Bajawa dan perguruan tinggi lainnya. (Intan)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *