Teknologi di Luar Musim Sebagai Solusi Alternatif untuk Meningkatkan Daya Saing Buah Lokal

sunarpos.com/Denpasar

Bali merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat mendukung pengembangan tanaman buah-buahan. Bahkan produk- produk buah lokal Bali memiliki kualitas yang sangat baik, seperti  manggis, mangga, pisang, jeruk, salak, ceroring, rambutan, anggur, pepaya dan lain sebagainya. Namun, faktanya pasar-pasar tradisional dan modern masih banyak ditemui adanya buahbuah impor yang jumlahnya melebihi dari buah-buah lokal. Kondisi ini perlu mendaptkan perhatian yang serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Dua hal yang menjadi isu penting dalam pengembangan buah local ini adalah kuantitas produk yang berkaitan dengan permintaan buah yang semakin meningkat, terutama pada hari-hari tertentu; dan kualitas buah yang berkenaan dengan selera konsumen

Untuk mengatasi kontinyuitas produk yang dihasilkan dapat dilakukan dengan aplikasi teknologi pembuahan atau panen di luar musim atau offseason. Teknologi di luar musim ini sudah sering diterapkan pada  tanaman  manga,  misalnya denegan pemberian Zat Pengatur Tumbuh (seperti Paklobutrazol dan Auxin) dan memberikan hasil yang maksimal. Manfaat  dari teknologi pembuahan atau panen di luar musim ini adalah menjamin kontinyuitas atau ketersediaan buah di luar musim dari buah tersebut. Konsekuenasinya adalah petani akan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi karena ketersediaan buah yang dipanennya tidak pada saat musim panen raya. Atau dengan kata lain, tingkat harga yang diterima petani tetap tinggi terhadap buah yang dihasilkannya. Teknologi ini merupakan salah satu aspek penting di dalam mewujudkan produkproduk buah lokal yang memiliki daya saing di pasar. Dengan demikian, sifat pertanian yang musiman masih biasa diatasi dengan penerapan teknologi di luar musim.

Sementara itu, kualitas produk buah-buahan yang dihasilkan oleh petani selain sangat dipengaruhi oleh kondisi agroklimat dan topografisnya,  juga  ditentukan oleh teknologi budidaya yang diterapkannya. Kualitas produk buah yang dihasilkan dapat berupa cita rasa, bentuk, warna termasuk ukurannya. Berbagai buah-buahan memiliki teknologi yang berbeda-beda di dalam menentukan kualitas buah yang dihasilkannya. Oleh karena itu, institusi pemerintah dan nonpemerintah harus senantiasa memperkenalkan inovasi kepada para petani melalui penyuluhan dan pelatihan-pelatihan. Kombinasi penggunaan pupuk serta

penambahan hormone atau zat pengatur tumbuh juga sangat diperlukan untuk diterapkan guna memperoleh kualitas buah yang baik. Kualitas yang baik ini akan menjadi selera tersendiri bagi konsumen. Apabila buah local  memiliki  kualitas yang dirasakan lebih bagus dari buah impor, maka konsumen akan memilih buah lokal untuk dikonsumsi. Di sisi lain, peningkatan kualitas buah akan memberikan nilai tambah bagi petani terutama dalam aspek harga. Oleh karena itu, penerimaan petani dari usahatani tanaman buahnya akan semakin meningkat.

*) Penulis

Yandri Eduard Mbau

Mahasiswa Prodi  Agroteknologi, Fakultas  Pertanian dan Bisnis Dwijendra University

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *